Membiasakan Siswa Berani Bertanya Di Kelas
Oleh: Saor Pardosi
Pernahkah melihat seorang siswa tampaknya ingin bertanya di kelas namun akhirnya urung? Sebagai guru, kita pasti kerap menyaksikannya. Namun, berapa banyakkah dari kita yang peka dan mau melakukan introspeksi, kenapa siswa enggan bahkan takut bertanya di kelas?
Abraham Maslow, dengan teorinya: ‘Hirarki Kebutuhan’, dapat membantu kita mengatasi persoalan ini. Maslow berujar, salah satu kebutuhan dasar manusia adalah kebutuhan akan rasa aman. Dalam konteks pembelajaran di kelas, kita sepaham, rasa aman itu penting. Ketika siswa sudah merasa aman di dalam kelas, semangat belajarnya pasti lebih hidup. Siswa yang merasa diterima di dalam kelas, akan berpeluang lebih besar untuk melibatkan diri dalam proses pembelajaran. Masalahnya adalah apakah guru benar-benar memberikan perhatian untuk menciptakan rasa aman itu atau sebaliknya hanya fokus pada target penyelesaian materi belajar yang ditetapkan oleh sekolah?
Fenomena dunia pendidikan kita belakangan ini, semakin banyak guru lebih fokus menjejalkan ilmu pengetahuan saja kepada siswa dengan metode mengajar searah pula. Siswa sudah lama dibiasakan menghafal semua materi belajar tanpa didorong untuk bertanya. Tak heran, daya kritis siswa akhirnya melempem. Ketika siswa diperhadapkan dengan sesuatu yang berbeda dari apa yang dihafal, bingung tidak tau hendak berpendapat apa. Di titik inilah urgensi pembiasaan siswa untuk berani bertanya dalam proses pembelajaran menjadi sesuatu hal yang terlalu tinggi nilainya untuk diabaikan.
Guru harus menjadi inisiator dalam menanamkan keberanian siswa untuk bertanya. Guru tidak boleh lagi hanya sekedar berbasi-basi kepada siswa dengan kalimat jadul, “Ada yang mau bertanya, anak-anak?” Malahan dalam situasi siswa yang enggan dan takut untuk bertanya, guru harus mampu mengajukan pertanyaan yang sasarannya mendorong siswa untuk bertanya ulang. Guru harus menyakini, kegiatan bertanya itu adalah awal dari semua pengetahuan baru. Tidak ada pengetahuan baru yang tidak digali dengan pertanyaan.
Fakta di lapangan, siswa kerap trauma bertanya di dalam kelas karena ditanggapi oleh guru dengan jawaban sinis dan ditertawakan oleh teman-teman sekelas. Guru harus menjadi contoh dalam menanggapi sebuah pertanyaan. Di sisi lain, guru juga harus mendidik siswa untuk mendengarkan dan menghargai pendapat teman tanpa mengejek atau mem-bully-nya dengan kata-kata yang tak sopan. Ketika pertanyaan siswa dinilai tidak atau kurang tepat, guru dapat memberikan petunjuk, atau mengajak siswa meninjau kembali pertanyaanya. Dengan demikian, kesalahan menjadi sebuah kesempatan untuk belajar bagi siswa, dan bukan alasan untuk merasa malu.
Keberhasilan kegiatan belajar tak lain adalah hasil kerja sama guru dan siswa yang sama-sama aktif dalam perannya masing-masing. Ketika siswa sudah terbiasakan aktif dalam keseluruhan proses belajar, kompetensi siswa niscaya meningkat.